Diriku, Abadikanlah Hidupku: Merangkul Masa Kecil dan Berpesan ke Diri Di Masa Lalu
Kelahiran seorang anak merupakan momen penuh kehangatan yang dirayakan setiap keluarga. Selain membawa kabar baik, kelahiran juga menjadi titik awal terbentuknya identitas, melalui pemberian nama yang tidak hanya sekadar penanda, melainkan juga merupakan doa dan amanat yang diberikan orang tua agar kita dapat melangkah di dunia fana.
Mengawali hidup seorang anak dalam usia dini, kita dikenalkan pada banyak hal dan konsep mendasar yang mewarnai hidup kita. Kebebasan tersebut kian membentuk ruang untuk berimajinasi, hidup dalam keceriaan, kebebasan, solidaritas dan rasa kasih tanpa pamrih di balik hiruk-pikuk penuh disforia.
Hal ini menjadikan seorang anak sebagai pelukis dengan dunia yang dapat dihiasi dengan penuh warna.
Namun, beranjak dewasa, kita yang seakan-akan bermimpi akan lebih bebas, pada akhirnya melihat realita berkebalikan. Sebagian atau bahkan banyak dari kita tentunya bisa merasa bahwa keajaiban dan warna yang dapat kita lihat dari dunia mulai terpusat pada palet hitam, putih dan abu-abu semata.
Kedewasaan masa kini bukanlah sebuah hal yang mudah. Banyak hal yang semakin kita menyadari, semakin memengaruhi kita baik secara internal maupun eksternal. Dewasa ini, kita dihadapkan dengan prinsip hukum alam yang, meskipun pilu, merupakan sebuah ‘kewajiban’ yang seakan-akan membangun perjalanan tiada akhir.
Tidak jarang pula kedewasaan juga datang dengan sederet kemudaratannya, membuat kita bingung akan arah hidup dan bahkan membuat kita mempertanyakan identitas diri kita sendiri; “Aku ini siapa?”, “Ke depan aku bagaimana ya?”, “When yah?”.
Mengacu pada dilema kedewasaan, salah satu novel yang berisikan kritik terhadap konsep kedewasaan bertajuk ‘The Little Prince’, karya Antoine de Saint-Exupéry pada tahun 1943, turut mengupas bagaimana selayaknya orang dewasa, kita semestinya tidak lantas kehilangan cara pandang seorang anak dalam memaknai dunia di tengah logika, stereotip linimasa dan disforia penuh pilu.
Sejalan dengan karya Antoine de Saint-Exupéry, kita juga dapat melihat beberapa fenomena nyata di mana orang dewasa terkadang terlihat membeli barang yang sekiranya terkesan kekanak-kanakan atau bahkan tidak penting. Kerap dikaitkan dengan nama ‘Kidult’ atau Kid Adults, fenomena ini menurut ranah psikologi Sigmund Freud, merupakan cara manusia untuk menjembatani id atau naluri dan merupakan salah satu komponen terbentuknya diri selain ego dan superego).
Keterlibatan diri dengan masa kecil bukanlah semata-mata lari pelarian dari kewajiban, lambang kelemahan mental, maupun nostalgia semata, melainkan waktu untuk kita kembali berpesan dan meyakinkan diri pada ‘versi dahulu kita’, bahwasanya diri kita sekarang masih dapat bergerak dengan baik-baik saja.
Memasuki momentum Hari Anak Nasional yang akan jatuh pada tanggal 23 Juli 2026 mendatang, marilah sejenak berpesan dan meyakinkan bahwasanya segala peluh, kebingungan, serta pertanyaan yang sempat menghantui perjalanan kita, tidak pernah sia-sia. Kalian lahir tidak hanya untuk menjalankan misi, tetapi juga bertanggung jawab atas mimpi yang kalian impikan dahulu. Jika terasa sulit, kalian bukanlah korban dari takdir, hanya saja saat ini mungkin kebaikan masih memiliki jalan yang harus ditempuh.
Lihat ke foto dahulu dan katakanlah pada diri kita masing-masing bahwasanya, “Hey, aku sekarang sudah melangkah jauh. Dengan melihat diriku yang lemah dahulu, aku yang sekarang tetap bertahan dan terus berani melangkah, meski sulit, yuk membawa serpihan kecil dari diri kita yang dahulu sebagai bekal untuk membangun impian satu per satu.” Teruntuk kawan UNDIRA, kira-kira apa yang akan kalian sampaikan ke masa kecil kalian dari versi kalian saat ini?
Sumber Referensi:
Kidult: Menghidupkan Kenangan Masa Kecil untuk Keseimbangan Hidup Dewasa - Psikogenesis
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Mengelola Keuangan Secara Efektif untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Read moreIntegrasi Budaya Jawa Dalam Membangun Citra Profesional: Prodi Ilkom UNDIRA Mendorong Pembangunan Karakter Melalui Table Manner
Read more
Menumbuhkan Sense of Belonging Mahasiswa sebagai Agent of Change dan Generasi Penerus Bangsa dalam PKKMB Hello Campus 2023 - Last Day
Read more
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432