AI Dukung Inklusivitas: Dosen Teknik Informatika UNDIRA Berkolaborasi Lintas Kampus Kembangkan Aplikasi ColorMate
Salah satu masalah kesehatan yang kini cukup prevalen di masyarakat adalah buta warna. Buta warna, atau yang dikenal dalam dunia medis dengan istilah color vision deficiency (CVD), merupakan kondisi di mana sel-sel kerucut pada retina mata tidak berfungsi dengan baik atau mengalami kelainan kongenital, sehingga penderitanya kesulitan membedakan warna-warna tertentu.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, sebanyak 7,4% penduduk Indonesia mengalami buta warna, dengan persentase tertinggi tercatat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu 24,3%. Meski angka tersebut terbilang cukup besar, penanganan serta penyediaan alat bantu maupun sensus berkelanjutan terhadap jumlah penyandang buta warna masih sangat terbatas di Indonesia.
Di tengah kebutuhan tersebut, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut membuka peluang lahirnya berbagai inovasi yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada peningkatan aksesibilitas dan inklusivitas.
Berangkat dari urgensi untuk mendorong terciptanya ekosistem yang lebih inklusif, dikembangkanlah sebuah aplikasi bernama ColorMate. Menurut salah satu anggota tim riset dan pengembangan aplikasi ColorMate, Anita Ratnasari, M.Kom., dan kajian Jurnal Satya Informatika Vol. 11 No. 1 Tahun 2026, aplikasi ColorMate merupakan hasil kolaborasi lintas universitas yang melibatkan sejumlah dosen dan peneliti dari beberapa perguruan tinggi.
ColorMate sendiri merupakan sebuah aplikasi mobile yang tidak hanya dikembangkan sebagai aplikasi teknis, tetapi juga sebagai solusi praktis yang dapat membantu pengguna dalam aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan pengenalan warna.
Dari segi operasional, ColorMate dikembangkan menggunakan Android Studio dengan bahasa pemrograman Kotlin. Proses pengembangan mengikuti tahapan yang mencakup analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi, pengujian menyeluruh dari tampilan hingga proses operasional (login hingga logout) menggunakan metode blackbox untuk memastikan berjalannya aplikasi sesuai spesifikasi, dan pemeliharaan berkala.
ColorMate memanfaatkan kamera perangkat untuk menangkap citra objek, yang kemudian akan diproses menggunakan algoritma K-Means Clustering untuk menentukan warna dominan dari data visual. Hasil deteksi kemudian akan ditampilkan dalam bentuk nama warna, nilai RGB (Red, Green, Blue), tingkat keyakinan atau confidence level, beserta deskripsi warna yang lebih mudah dipahami pengguna.
Selain fitur deteksi warna, ColorMate dilengkapi dengan kuis interaktif yang dapat memberikan gambaran awal mengenai kemungkinan jenis buta warna berdasarkan pola jawaban pengguna. Fitur ini memperkuat nilai edukatif aplikasi karena pengguna tidak hanya memperoleh informasi warna, tetapi juga dapat lebih memahami kondisi visual yang dialaminya. Meski demikian, hasil kuis tetap perlu dipahami sebagai informasi awal dan bukan pengganti pemeriksaan medis profesional.
Dari sisi pengelolaan data, aplikasi ini memanfaatkan Firebase Authentication dan Firebase Firestore untuk mendukung autentikasi pengguna, penyimpanan riwayat hasil deteksi warna, serta penyimpanan hasil kuis secara otomatis. Integrasi tersebut membuat aplikasi lebih terstruktur karena pengguna dapat mengakses kembali data yang telah tersimpan. Lantas meningkatkan aksesibilitas dan review otodidak para pengguna.
Walaupun demikian, pengembangan ColorMate masih memiliki ruang untuk peningkatan. Akurasi deteksi warna masih dapat dipengaruhi oleh kondisi pencahayaan, kualitas kamera perangkat, dan keterbatasan kamus warna. Oleh karena itu, pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada normalisasi pencahayaan, perluasan basis data warna, serta penambahan fitur penguncian area bidik kamera agar hasil identifikasi menjadi lebih stabil.
Kehadiran ColorMate menjadi contoh bahwa teknologi AI dan machine learning dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan sosial secara konkret. Melalui riset kolaboratif lintas kampus, inovasi seperti ini diharapkan dapat mendorong sivitas akademika Program Studi Teknik Informatika UNDIRA dan mitra perguruan tinggi lainnya untuk terus menghasilkan riset yang aplikatif, humanis, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam pengembangan ColorMate juga menegaskan bahwa inovasi digital tidak harus berhenti pada aspek teknis. Teknologi dapat menjadi jalan tengah untuk memperluas aksesibilitas, mendukung kemandirian pengguna, serta membangun ekosistem digital yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sumber Referensi:
Alomedika - Kajian Jumlah Penyandang Buta Warna
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Lainnya
Memajukan Hilirisasi Inovasi dan Literasi Sivitas Akademika Sedunia: Yuk Kenal Apa Itu Scopus
Read more
Tingkatkan Daya Saing UMKM Lokal - Dosen Program Studi Manajemen UNDIRA Adakan PkM Bagi Warga Kemayoran, Jakarta Pusat
Read more
Kembangkan Skill Lintas Disiplin: Mempersiapkan Mahasiswa di Dunia Kerja
Read more
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432