Di Balik Tawa dan Canda, Ada Makna: Membaca Parodi Dari Dua Sudut Pandang Disiplin
Ketika kita melihat ataupun mendengar sebuah lelucon disampaikan, kita akan merasa jauh lebih lega dengan timbulnya tawa yang juga melepaskan dopamin. Tentunya lelucon yang didengar dan kemudian diadopsi berasal dari referensi tertentu, Inilah esensi dari parodi.
Parodi singkatnya merupakan sebuah bentuk seni dan komunikasi di mana kita akan secara sengaja meniru lalu memodifikasi sebuah brand atau wacana tertentu untuk menciptakan efek komedi. Kita dapat melihat perwujudan parodi di masa modern ini baik melalui karya visual maupun wacana di berbagai linimasa dan media, bahkan pada beberapa karya digital seperti video game.
Di balik fungsinya yang mengundang tawa, sesungguhnya parodi merupakan aspek yang memiliki scope atau sudut pandang studi yang luas, baik secara komunikatif maupun secara kebahasaan dan sastra.
Pertama, dari sudut pandang studi komunikasi, parodi bukanlah sekadar cara kita menyampaikan konsep yang mengundang tawa semata, melainkan juga sebuah bentuk penyampaian pesan dan makna yang mengunggah ajakan (persuasi) sekaligus membangun narasi kuat bagi jagat khalayak akan topik tertentu.
Peran parodi sebagai alat komunikasi kini juga kian diperkuat oleh teori Encoding-Decoding yang diperkenalkan oleh Stuart Hall, seorang sosiolog atau ilmuwan di bidang ilmu sosial, pada tahun 1973 melalui makalahnya yang berjudul "Encoding and Decoding in the Television Discourse". Di dalamnya, terkandung gagasan penting yang menyatakan bahwa salah satu fungsi parodi di luar ranah komedi, berfungsi pula sebagai “perlawanan” halus atas representasi dan makna eksisting yang telah dominan, baik di suatu jagat media maupun di publik melalui komunikasi kritis.
Sebagai contoh, ketika kawan UNDIRA melihat beberapa iklan smartphone flagship, tentu kalian sekali dua kali akan menemukan sebuah candaan atau singgungan terhadap identitas brand kompetitor melalui adanya narasi humoris di scene tertentu secara halus. Di sini pula peran parodi bergerak sebagai alat komunikasi strategis dalam mengembangkan branding.
Selain berfokus sebagai metode komunikasi, peran parodi juga terlihat pada jagat studi sastra dan kebudayaan. Parodi kerap didudukkan sebagai salah satu wujud paling nyata dari relasi intertekstualitas, yakni bagaimana sebuah teks senantiasa lahir dari, merujuk pada, atau menggubah teks-teks lain yang telah eksis sebelumnya.
Linda Hutcheon dalam A Theory of Parody (1985) menegaskan bahwa parodi sejatinya adalah bentuk "repetisi dengan jarak kritis" (repetition with critical distance), sebuah strategi meminjam bentuk yang telah mapan untuk kemudian menggugat, mempertanyakan, bahkan menegaskan ulang ideologi dan kritik kebudayaan yang melekat padanya (dalam beberapa bentuk berbeda).
Gagasan tersebut juga menemukan ruang perwujudan yang begitu kaya pada video game sebagai salah satu produk budaya digital.
Grand Theft Auto (GTA) besutan Rockstar Games atau game Fallout Series buatan Bethesda. Keduanya kerap mengaitkan sederet polemik dan kebudayaan dunia nyata dan membungkusnya menjadi parodi “lucu-lucuan” yang bersifat satir nan provokatif.
Grand Theft Auto mengupas rasisme stereotipikal melalui parodi melalui pengaitan praduga dan kebudayaan terhadap ras tertentu. Game lain seperti Fallout Series juga melakukan hal serupa dengan pengadopsian brand minuman dunia nyata seperti Coca-Cola menjadi Nuka-Cola yang secara tidak langsung bukan hanya menciptakan kesan canda, tetapi juga menggambarkan kejayaan korporasi brand minuman negeri Paman Sam tersebut.
Parodi bukanlah sekadar hiburan ringan yang lahir untuk mengundang tawa semata, melainkan sebuah ruang ekspresi melalui kritik halus dan retorika yang begitu kaya dengan sederet kiasan dan makna dari berbagai sumber media.
Bagi kawan UNDIRA, khususnya yang menempuh studi di Sastra Inggris maupun Ilmu Komunikasi, topik ini semestinya menjadi undangan terbuka untuk melihat parodi sebagai sebuah ranah studi yang menarik dan multidisiplin yang dapat memperkaya jagat wawasan kita secara menyenangkan sekaligus interaktif.
Sumber Referensi:
“The Bitter Laughter”. When Parody Is a Moral and Affective Priming in Political Persuasion
Stuart Hall's Representation Theory Explained! Media Studies revision
Press Contact :
Biro Humas & Sekretariat Universitas Dian Nusantara
Facebook : www.facebook.com/undiraofficial
Instagram : www.instagram.com/undiraofficial
Twitter : www.twitter.com/undiraofficial
www.undira.ac.id
Yayasan Dian Asra
Kampus Tanjung Duren
Jln. Tanjung Duren Barat II No. 1
Grogol, Jakarta Barat. 11470
Kampus Green Ville
JIn. Mangga XIV No. 3
Kampus Cibubur
Jln. Rawa Dolar 65
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432
Kampus Cibubur Kranggan Raya
Jln. Raya Kranggan, No.6, RT 006/ RW 008
Jatiranggon Kec. Jatisampurna, Bekasi. 17432